PSIS Butuh Tim Marketing dan Promosi


Pelarangan penggunaan APBD oleh pemerintah seharusnya dijadikan momentum bagi tim-tim sepak bola Tanah Air untuk menjadi sebuah tim yang profesional dan mandiri. Jika sebelumnya sering dimanjakan oleh dana APBD, kini saatnya para pengelola klub bertindak kreatif untuk mencari sumber pembiayaan tim.

Hal tersebut disampaikan sekum PSIS, Setyo Agung Nugroho saat diminati komentarnya mengenai prospek PSIS musim mendatang. Atas dasar tersebut, dia menekankan pentingnya figur-figur yang memiliki kemampuan marketing dan promosi di tubuh manajemen tim musim mendatang.

“Mereka juga harus memiliki akses yang luas kepada kalangan pengusaha,” kata Agung. Sejak awal, Agung mengaku memang kurang setuju APBD digunakan sebagai sumber pembiayaan sebuah klub. Sebab, hal tersebut membuat kompetisi tidak lagi berjalan secara fair.

Klub yang berasal dari daerah kaya, tentu tidak akan kesulitan mendapatkan dana yang besar dari APBD daerahnya. Berbekal dana yang berlimpah, mereka tentu dapat secara leluasa membeli pemain dan pelatih berkualitas. Hal itu tentunya menyulitkan bagi tim yang memiliki dana terbatas, atau bahkan tanpa bantuan APBD untuk bersaing.
“Memang tergantung dengan kebijakan pemda masing-masing. Tapi fakta membuktikan, tim-tim yang memiliki pemain pas-pasan hampir selalu tak berkutik jika berhadapan dengan tim-tim yang digelontor dana APBD,” kata Agung yang sempat beberapa musim menjadi manajer tim Mahesa Jenar ini.

Lebih lanjut dia mengatakan, untuk menjadi sebuah tim sepak bola profesional bukan perkara mudah, tapi juga bukan tidak mungkin dilakukan. Semua tergantung goodwill dari seluruh stakeholder, baik pemerintah daerah, pengurus, suporter, maupun pihak-pihak lainnya yang terkait.

Modal

PSIS dinilainya memiliki “modal” untuk menjadi sebuah tim sepak bola profesional. Selain sejarah panjang dan nama besar, tim ini memiliki pendukung dengan jumlah yang besar yang tergabung di beberapa kelompok suporter. Dirinya yakin, jika PSIS dikelola dengan tepat, tidak butuh waktu lama untuk menjelma menjadi tim yang mandiri secara finansial.

Sejatinya, PSIS pernah mengalami musim tanpa sedikitpun bantuan dari APBD, yaitu pada saat tampil di Indonesia Super League (ISL) musim kompetisi 2008.
“Dengan dana yang terbatas, saat itu kami dituntut tampil penuh selama satu musim,” katanya.
Meski akhirnya terpuruk dan terdegradasi, PSIS dinilainya telah melakukan langkah yang tepat dengan memaksimalkan potensi pemain lokal. Terbukti beberapa punggawa tim kala itu, kini telah menunjukkan kematangannya sebagai pemain sepak bola. Beberapa di antaranya, Ferry Ariawan, Gunawan Dwi Cahyo dan Hendro Siswanto.

Karena itu, di musim nanti optimalisasi pemain lokal benar-benar diterapkan, dia menilai pentingnya kontrak jangka panjang diberlakukan. Penerapan kontrak jangka pendek (semusim) yang kerap dilakukan selama ini, dikatakannya sebagai akibat APBD dijadikan sumber utama pembiayaan.

“Setiap tahun pengelola klub harus menyusun anggaran belanjanya karena dana yang mereka gunakan berasal dari APBD,” tuturnya. Meski tak mudah, dirinya optimistis PSIS bisa lebih baik pada musim mendatang. Sepanjang dikelola secara profesional dan transparan. Karena itu dia berharap kepada masyarakat pecinta bola di Kota Semarang peduli terhadap PSIS. “Kami menanti saran dan masukkan dari para tokoh sepak bola, suporter serta pihak-pihak lain yang peduli terhadap eksistensi tim ini ke depan,” katanya. (H54-73 )

0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Powerade Coupons