Dalam persiapannya nanti, PSIS jangan mau kalah dari Semarang United Football Club (SUFC), terutama dalam mengakomodasi pemain lokal Semarang.
Bagaimanapun kedua klub profesional ini menjadi muara pembinaan pemain Kota Lunpia. Hal ini disuarakan perwakilan sejumlah perkumpulan sepak bola.
Seperti yang dikatakan pelatih POP Polrestabes, Agus Yatmono, selama ini tim berjuluk Mahesa Jenar lebih banyak memberi kesempatan kepada sumber daya manusia dari luar daerah. Pemain lokal sering kali tersisihkan.
”Banyak pemain potensial Semarang yang terpaksa pergi karena tidak mendapatkan tempat di daerah sendiri. Misalnya Eli Nasoka yang menjadi punggawa Persijap U-21, dan Nanda yang memperkuat Pelita Jaya U-21,” ujarnya.
Penyebabnya adalah, di samping manajemen yang belum berani menampilkan pemain potensial, pelatih bukan orang Semarang sehingga kurang mengerti pembinaan yang telah ada. Karena itu, pelatih lebih banyak memberi kesempatan kepada pemain yang dibawanya.
Hal senada diucapkan pelatih Biprada, Yuli Setyabudi. PSIS harus menarik beberapa pemain potensial yang kini memperkuat klub di daerah lain. Jangan lagi mengandalkan pemain yang sudah jadi, namun usianya tidak mendukung.
Terlambat
Apalagi, klub-klub profesional Indonesia sudah tidak boleh lagi menggunakan dana APBD. Dengan pemain lokal akan menghemat pembiayaan. Pihak swasta dan publik juga akan memberi apresiasi lebih bila PSIS menggunakan aset lokal.
Pelatih Undip, Sumardi Widodo menambahkan, dalam persiapan PSIS boleh dibilang terlambat, karena tim sekota (SUFC-red) sudah mulai melaksanakan persiapan. Tidak menutup kemungkinan tim yang pernah dua kali menjadi juara di sepak bola Indonesia ini akan kembali mendapatkan pemain sisa.
Dia memaparkan, dalam persiapan PSIS harus memiliki konsep yang jelas. Apakah mengejar prestasi semata atau pembinaan pemain. Bila ingin fokus pembinaan, maka memerlukan waktu lama.
Pemain-pemain muda yang akan direkrut harus dipertahankan dua hingga tiga tahun sehingga akan terlihat hasilnya. ”Bila menginginkan prestasi, tentu tidak bisa hanya mengandalkan pemain muda,” katanya.
Pemain muda butuh pembinaan dan jam terbang masih terbatas. ”Dalam kompetisi nanti persaingan kian ketat sehingga perlu pertimbangan yang matang serta konsep yang jelas,” papar pria yang musim lalu menjadi pelatih fisik PSIS ini. (K18-16)


Posted in:
0 comments:
Post a Comment