Jika Dipaksakan, Persis Pilih Liga Amatir

Jika Dipaksakan, Persis Pilih Liga Amatir Tanda tanya melingkupi kalangan pengurus Persis Solo. Sebab, hingga hari ini mereka belum menerima surat PSSI mengenai kesanggupan untuk diverifikasi. Padahal deadline jawaban dan pengembalian surat tersebut dibatasi paling lambat hari ini (Rabu, 10/8).

"Mau mengembalikan bagaimana, kalau suratnya saja belum kami terima," ujar Ketua Umum Persis FX Hadi "Rudy" Rudyatmo di Rumah Dinas Wakil Wali Kota Surakarta, Selasa (9/8).

Adanya verifikasi tersebut muncul dalam workshop di Jakarta yang mengundang perwakilan klub-klub, termasuk Persis Solo, beberapa waktu lalu. Sebagai tindak lanjut, PSSI mengirim surat yang diteken Sekjen Tri Goestoro dan Ketua Komite Bidang Kompetisi Sihar Sitorus. Inti surat, klub yang berminat ikut dalam kompetisi profesional diminta mengirimkan surat kesanggupan diverifikasi maksimal pada 10 Agustus (hari ini-Red).

"Beberapa waktu lalu memang ada telpon dari PSSI menanyakan alamat Persis untuk pengiriman surat. Saya sudah berikan, namun hingga kami belum menerima suratnya. Tapi tadi saya dapat SMS dari PSSI, katanya surat untuk Persis mau dikirim," tutur Wakil Sekretaris Persis, Sapto Joko Purwadi, Selasa (9/8) sore.

Sangat Mepet
Sebenarnya Persis pernah diverifikasi sebelum kompetisi ISL dimulai. Beberapa aspek seperti infrastruktur, manajemen dan pembinaan terpenuhi. Aspek legal formal waktu itu menggunakan yayasan, tapi soal finansial tanpa APBD memang masih berat.

Rudy menyebut jangka waktu yang diberikan PSSI untuk pemenuhan lima aspek verifikasi sangat mepet. Menurutnya, tidak hanya klub-klub ISL dan Divisi Utama yang terkena imbasnya, tapi klub-klub LPI juga akan terkena dampaknya.

"Misalnya, Persis dan Solo FC. Untuk Persis, kami bisa melengkapi tiga aspek seperti infrastruktur, supporting dan SDM. Sedangkan Solo FC, mungkin kuat di finansial tapi infrastruktur tidak punya," ungkapnya. Karena itu, jika batas waktu yang singkat untuk memenuhi aspek-aspek verifikasi dipaksakan, pihaknya lebih condong memilih kompetisi di liga amatir.

"Lebih baik kami di amatir saja, karena tak ada beda mencolok antara amatir dan profesional. Bedanya cuma antara yang punya uang dan yang tidak," tandasnya. (Gading Persada/Setyo Wiyono/suaramerdeka)

0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Powerade Coupons