Konsep Penataan dari PSSI Patut Dicoba

Mantan manajer tim PSIS, Ganang Ismail menyambut baik larangan penggunaan dana APBD bagi pembiayaan klub profesional. Keputusan tersebut akan memaksa seluruh pengelola klub untuk bersikap realistis.

“Sejak awal saya memang kurang sepakat APBD digunakan untuk sepak bola,” kata Ganang.

Selain kurang fair, penggunaan APBD bagi pembiayaan klub sepak bola selama ini justru menjauhkan dari nilai-nilai profesional. “Selama ini sepak bola kita bersikap munafik. Ingin disebut profesional, tapi masih banyak klub yang mengandalkan dana APBD,” kata putra mantan Gubernur Jateng, almarhum HM Ismail ini.

Disinggung mengenai konsep yang ditawarkan PSSI untuk menata sistem kompetisi sepak bola profesional musim mendatang, Ganang menyarankan kepada semua klub, termasuk PSIS untuk mencobanya. Namun jika kondisinya tidak memungkinkan, PSIS tidak perlu memaksakan diri.

Pada AFC Professional Club Assesment Workshop yang digelar di Hotel Sahid pekan lalu, PSSI memaparkan batasan-batasan kepada semua klub agar dapat dikategorikan profesional. Selain diharuskan menjalani proses verifikasi, PSSI juga juga harus mewajibkan kepada seluruh klub untuk menyerahkan dana deposit serta budgeting cap untuk satu musim kompetisi.

Terkait deposit dan budgeting cap, PSSI menawarkan kepada klub-klub peserta dua tingkatan. Di Level I, jumlah deposit yang harus dimiliki berjumlah Rp 5 miliar, sementara budgeting cap Rp 15 miliar. Untuk level II, deposit sebesar Rp 2 miliar dan budgeting cap Rp 8 miliar.

Tak hanya itu, untuk menjamin neraca keuangan lebih stabil, PSSI juga berencana menerapkan pembatasan gaji para pemain. Para pemain lokal mendapat batasan gaji setiap musim sebesar Rp 500 juta dengan durasi kontrak minimal tiga tahun. Kebijakan yang sama juga diterapkan bagi para pemain asing.

Sangat Berat

Meski secara resmi belum mengeluarkan sikap resminya, PSIS menilai kebijakan yang dikeluarkan PSSI sangat memberatkan klub-klub sepak bola. Jika diibaratkan, kondisi PSIS saat ini menurut Ketua Harian PSIS, Simon Legiman bak keluar mulut harimau masuk ke mulut buaya. Senin, (8/8) ini, dirinya berencana untuk bertemu dengan beberapa pengurus lain guna membahas masalah ini. (H54-73 )

0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Powerade Coupons